Selamat Datang di Website Resmi Dinas Peternakan Provinsi Sumatera Barat..

headline 2. Septichaemia epizootica (SE, Ngorok)

Kesehatan Hewan | Senin, 01/02/2010 09:47 WIB

Penyakit Septichaemia epizootica (SE/Ngorok) pertama kali ditemukan di Sumatera Barat tahun 1884 di Kab. Tanah Datar pada ternak kerbau.  Dengan semakin berkembangnya ternak kerbau di Sumatera Barat sehingga telah menyebar di beberapa kabupaten seperti, Kabupaten 50 Kota, Padang Pariaman, Agam, Sawahlunto Sijunjung, Pesisir Selatan, Solok, Solok Selatan, Pasaman, Tanah Datar dan Kota Sawahlunto. Diperkirakan populasi Kerbau di Propinsi Sumatera Barat  berkisar 300.000 ekor.  Secara epidemiologi Propinsi Sumatera Barat merupakan daerah endemis penyakit SE, tetapi pada periode tertentu apalagi kegiatan vaksinasi menurun, penyakit SE berubah menjadi epizootic (wabah).

Wabah Septichaemia epizootica/SE di Sumatera Barat pernah terjadi tahun 1978 di Kabupaten Sawahlunto Sijunjung dengan jumlah kematian ternak 12 ekor.  Kemudian muncul kembali wabah SE tahun 1983  di Kabupaten Agam, 50 Kota, dan Padang Pariaman dengan kematian ternak sebanyak 56 ekor.  Pada tahun 1989 terjadi lagi wabah dan pada umumnya terjadi di seluruh daerah kabupaten maupun kota yang ada ternak kerbau. Penyakit ini berawal pada bulan April 1989 di Kec 2 x 11 Enam Lingkung Kabupaten Padang Pariaman, secara cepat penyakit ini menyebar ke seluruh kabupaten di Propinsi Sumatera Barat.  Pada awal kejadian sebanyak 337 ekor ternak mati bangkai dan 362 ekor potong paksa.  Kasus kematian sampai September 1989 adalah 2.082 ekor kerbau termasuk juga potong paksa.  Penyebaran kasus penyakit Septichaemia epizootica awalnya dari Kabupaten Padang Pariaman tanggal 7 April 1989, 145 ekor potong paksa dan 39 mati bangkai, Kota Padang 77 Potong paksa dan 27 mati bangkai, Kabupaten Agam 305 potong paksa dan 180 mati bangkai, Kabupaten Tanah Datar 96 potong paksa dan 104 mati bangkai, Kabupaten Sawahlunto Sijunjung 306 potong paksa dan 201 mati bangkai, Kabupaten 50 Kota 47 potong paksa dan 54 mati bangkai, Kabupaten Pesisir Selatan 201 potong paksa dan 233 mati bangkai, sehingga keseluruhan 1.205 potong paksa dan 877 mati bangkai, kerugian diperkirakan 2 milyar rupiah lebih.

Pada tahun 1991 secara sporadis penyakit ini masih terjadi pada daerah-daerah kantong penyakit dan kejadian luar biasa (out break) seperti yang terjadi di kabupaten Pasaman, kecamatan Pasaman, desa Sasak sekitar bulan Agustus 1991 dengan korban sebanyak 155 ekor ternak kerbau mati bangkai dan 40 ekor potong paksa dan pada sapi 25 ekor mati bangkai.  Pada tahun 1991 terjadi juga kasus sporadis di kabupaten 50 Kota 17 ekor mati bangkai dan 19 potong paksa dan kabupaten Sawahlunto Sijunjung 21 ekor kerbau mati bangkai dan 31 ekor potong paksa, dan Kota Sawahlunto di Desa Rawang Talawi Mudik sebanyak 9 ekor kerbau mati bangkai.  Hampir setiap tahun selalu muncul kasus secara sporadis, tahun 1999 di Pangkalan 4 ekor mati bangkai,th. 2001 di desa Rawang Talawi Mudik Kota Sawahlunto, pada 2003 di Lintau Buo Kabupaten Tanah Datar dan tahun 2004 terjadi di Kecamatan Sangir Kabupaten Solok Selatan  dengan 20 ekor mati bangkai, Kecamatan Sumpur Kudus dan Kecamatan Kuamang Baru di Kabupaten Sijunjung hampir 60 ekor mati bangkai dan 89 potong paksa.  Tahun 2005 mulai bulan Maret s/d April  terjadi  kasus luar biasa di Kecamatan Basa Ampek Balai Tapan Kabupaten Pesisir Selatan dengan korban ternak kerbau sebanyak 192 ekor mati bangkai dan 466 ekor potong paksa, kemudian pada bulan Juli s/d Agustus terjadi di Kecamatan Surantih di Desa Tambulun dan Pasir Panjang dengan korban 61 ekor potong paksa dan 32 mati bangkai terakhir pada bulan September terjadi di Kecamatan Linggo Sari Baganti Air Haji dengan korban sebanyak 15 ekor mati bangkai dan 13 ekor potong paksa. 

Pada tahun 2006 kasus penyakit SE/Ngorok terjadi di Kab. Kepulauan Mentawai, yaitu pada ternak babi dan menyebabkan kematian 2.062 ekor babi, khususnya di Dusun Satboyak dan Dusun Mangun Poula, Desa Sikabaluan, Kecamatan Siberut Utara.  Seterusnya pada tahun yang sama kasus SE/Ngorok juga terjadi di Desa Tenga Abai, Kecamatan Sangir dan menimbulkan kematian 65 ekor ternak kerbau; selain itu kasus juga terdapat pada ternak sapi di Jorong Cubadak Pantai, Kec. Lintau Buo, Kab. Tanah Datar.  Sedangkan sejak awal tahun 2007 hingga akhir tahun 2008 tidak pernah terjadi kasus penyakit SE/Ngorok di Kabupaten/Kota se Sumatera Barat.
Untuk mengantisipasi terjadinya wabah penyakit Ngorok (Septichaemia Epizootica) perlu ditingkatkan vaksinasi pada daerah-daerah kantong penyakit terutama pada ternak kerbau.  Adapun daerah - daerah kantong penyakit SE/Ngorok di Sumatera Barat adalah sebagai berikut :

1) Kab Agam (Kec. Lubuk Basung, Kec Matur)
2) Kab 50 Kota (Kec. Pangkalan, Luhak, Suliki, Gunungmas)
3) Kab. Padang Pariaman (Kec. 2 x 11 Enam Lingkung, Kec. Batang Anai)
4) Kab. Tanah Datar (Kec. Lintau Buo)
5) Kota Sawahlunto (Kec. Talawi Mudik)
6) Kab. Darmasraya (Kec .Sitiung, Sikabau)
7) Kab. Sijunjung (Kec. Sumpur Kudus dan Kec. Kuamang Baru)
8) Kab. Solok Selatan (Kec. Sangir)
9) Kab. Pesisir Selatan (Kec. BAB Tapan, Linggo Sari Baganti, Surantih, Tarusan dan Batang kapas).
10) Kab. Kepulauan Mentawai (Desa Sikabaluan, Kec. Siberut Utara)
11) Kota Padang (Kec. Bungus Teluk Kabung)
12) Kab. Solok (Kec. X Koto Diatas)
13) Kab. Pasaman Barat (Kec. Pasaman)

Daerah - daerah tersebut di atas merupakan kawasan ternak (kerbau, sapi maupun babi) yang sangat rentan terhadap munculnya wabah SE/Ngorok dan perlu dilakukan kegiatan vaksinasi secara rutin, sehingga dapat mengantisipasi kemungkinan munculnya out break serta menghindari kerugian ekonomi masyarakat peternak akibat penyakit SE/Ngorok.