/ Berita Disnak / Detil

Disnak Sumbar   21 Februari 2019

Wacanakan Perda Pengendalian Ternak


“Selama ini Pemerintah Kabupaten Solok baru sekadar menggelar sosialisasi dan imbauan untuk tidak memotong sapi betina produktif. Akibatnya, pemotongan sapi betina produktif tetap dilakukan masyarakat, terutama saat Idul Adha,” ujarnya.  Dengan adanya perda ini diharapkan masyarakat tidak agi menyemblih sapi betina.

Lebih jauh politisi PDI Perjuangan ini mengatakan, perda tentang pengendalian ternak sapi betina ini nantinya akan berperan dalam meningkatkan populasi dan produktivitas ternak sapi yang bermuara pada swasembada daging.

Perda ini dibuat disamping untuk meningkatkan populasi dan produktivitas ternak juga untuk memenuhi kebutuhan konsumsi daging yang aman, sehat utuh dan halal. Perda ini juga dapat meningkatkan peranan kelembagaan peternakan dalam mendukung ekonomi kerakyatan yang berdaya saing. Dengan adanya perda ini dharapkan dapat menyelamatkan sapi betina produktif dari pemotongan di rumah potong hewan. Sehingga dapat menyediakan sapi betina produktif untuk pengembangan populasi.

Kabupaten Solok saat ini benar-benar membutuhkan upaya hukum untuk mempertahankan dan pengendalian keberadaan sapi betina produktif sebagai sumber bibit berkualitas dalam rangka terwujudnya agribisnis peternakan di Kabupaten Solok.

Menanggapi itu, Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Solok, Admaizon mengatakan, sebenarnya aturan dan larangan penyembelihan sapi betina produktif tertuang dalam Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2014 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan pasal 18 ayat (4), menyebutkan setiap orang dilarang menyembelih ternak ruminansia kecil betina produktif atau ternak ruminansia besar betina produktif.

Dari data Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Solok populasi ternak sapi di Kabupaten Solok pada 2018 berjumlah 41 ribu ekor lebih, atau meningkat dari 2017 sekitar 40 ribu ekor. Sementara tahun 2016 tercatat populasi ternak sapi potong di Kabupaten Solok hanya sekitar 39 ribu ekor.

Pada tahun 2018, ada 2.980 ekor hewan ternak yang di kurbankan oleh Masyarakat kabupaten Solok, Riinciannya 2.581 ekor sapi, 392 ekor kambing 10 ekor kerbau. Disebutkannya, masih banyak masyarakat yang belum memahami hal itu, sehingga masih banyak yang menjual sapi betina dipasar. Hal inilah yang akan segera diatasi oleh Pemkab Solok, karena aturan ini dimaksudkan untuk mempercepat program swasembada daging sapi.

“itulah permasalahan kita saat ini, secara berkala, terutama pada bulan puasa, dan sebelum Idul Adha, kita bersama kepolisian selalu memeriksa pasar ternak di Muarapanas, dan mensosialisasikan aturan tersebut kepada masyarakat,” katanya.

Sementara itu, Bupati Solok, Gusmal mengakui masih tingginya pemotongan sapi betina produktif untuk keperluan kurban di Kabupaten Solok, dan akan mengakibatkan populasi sapi menurun. Untuk mengatasi hal ini Pemerintah Kabupaten Solok setuju adanya sebuah produk hukum yang mengatur pengendalian ternak sapi betina produktif.

“Ke depannya kita berharap adanya kesadaran seluruh pemangku kepentingan, mulai dari peternak, pedagang, tukang jagal hingga konsumen untuk menghindari pemotongan sapi betina,” pungkasnya. Sumber: Padang Ekspres


Komentar Anda