PENAS XIV KTNA: 35.000 Petani Dan Nelayan Hadiri Di Malang


Bisnis.com, MALANG - Pekan Nasional (Penas) petani Nelayan ke XIV di Stadion Kanjuruhan Kepanjen Kabupaten Malang, Jawa Timur, diikuti tak kurang 35.000 petani dan nelayan.

Ketua Panitia Pelaksana Penas yang juga Ketua Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA), Winarno Tohir, mengatakan peserta tersebut datang dari 34 provinsi dan 500 kota/kabupaten di Indonesia.

“Mereka (peserta) terbagi dalam tiga kelompok yakni utama (petani dan nelayan) yang mencapai 75%, 30% pendamping (petugas dari pemerintah pusat, provinsi, dan daerah), serta sisanya peninjau yang berasal dari organisasi profesi, pakar, peneliti, dan pelaku agribisnis,” kata Winarto dalam pembukaan Penas ke XIV di Stadion Kanjuruhan Kepanjen Kabupaten Malang. Selain itu, perwakilan petani dari ASEAN dan Jepang juga hadir sebanyak 60 orang. Dalam pembukaan, sejumlah duta besar negara sahabat, menteri kabinet Indonesia bersatu jilid II, gubernur, anggota DPR dari Komisi IV, bupati dan wali kota se-Indonesia juga terlihat hadir.

Penas sendiri akan menampilkan 32 jenis kegiatan yang dirangkum dalam tujuh kelompok bidang. Selain itu peserta Penas juga akan mendapat tambahan berupa kegiatan magang di tempat petani sukses maupun di UPT pertanian serta BPPT.
“Penas harapannya bisa menjadi ajang pertemuan bagi petani nelayan untuk saling bertukar informasi, belajar, serta meningkatkan motivasi kepada generasi muda untuk cinta kepada bidang pertanian dan perikanan,” jelas dia.

Menteri Pertanian, Suswono, mengatakan melalui Penas para peserta diharapkan bisa meningkatkan jejaring dan saling belajar dalam upaya meningkatkan produksi maupun kesejahteraan.

“Sekaligus bisa menjadi ajang evaluasi atau umpan balik atas capaian kerja di bidang pertanian dan perikanan,” ujarnya.
Dalam empat tahun terakhir menurut Suswono sektor pertanian juga mampu menunjukkan kinerja yang baik. Hal itu ditandai dengan peningkatan produksi sejumlah komoditas seperti padi, jagung, kedelai, tebu, maupun daging di tengah situasi yang berkembang seperti perubahan iklim maupun serangan hama dan penyakit.

Pada kesempatan itu menteri pertanian juga menyerahkan buku Strategi Induk Pembangunan Pertanian (SIPP) kepada sejumlah pemimpin daerah yang merupakan upaya menjawab tantangan jangka panjang di bidang pertanian selama 2013-2045.

“SIPP merupakan upaya untuk mewujudkan Indonesia sebagai negara yang mandiri, bermartabat, dan unggul di bidang pertanian dan pangan,” tambah dia.